Sejak masa orde baru, pengusaha sudah mulai berkiprah
di bidang politik. Khususnya partai Golongan Karya (Golkar). Di era tersebut
Golkar adalah partai yang paling berkuasa dan menjanjikan. Setelah lengsernya
Soeharto dan lahirnya era reformasi partai politik mengalami peningkatan jumlah
yang sangat signifikan. Kondisi ini memberikan peluang yang sangat luas agar
pengusaha ikut berpartisipasi dalam partai politik. Sehingga, keikutsertaan
pengusaha dalam kancah perpolitikan di negeri ini merupakan hal lumrah dan
terjadi di mana-mana. Tidak hanya di tingkat pusat, di daerah demikian pula.
Kehadiran
pengusaha dalam percaturan politik biasanya lebih mengacu pada hubungan yang
bersifat simbiosis mutualisme. Masing-masing pihak telah mendapatkan ‘jatah’nya
sendiri, baik itu pengusaha maupun penguasa. Bergabungnya pengusaha dalam
partai politik biasanya lebih didasari agar bisnis yang sedang dijalankan
memperoleh proteksi. Posisi yang strategis juga akan mempermudah pengusaha
memenangkan proyek-proyek dari pemerintah. Mahalnya biaya pesta demokrasi,
disebabkan money politics menjadi
salah satu pertimbangan sebuah partai untuk ‘melamar’ atau menerima ‘lamaran’ seorang
pengusaha, dengan harapan akan memberikan amunisi berupa suntikan dana dalam pemilihan
umum.
Pada bulan Januari lalu, CEO Lion Air,
Rusdi Kirana memutuskan untuk bergabung dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Posisi yang diperoleh tidak tanggung-tanggung, yaitu Wakil Ketua Umum PKB.
Rusdi yang keturunan cina memutuskan bergabung ke PKB dengan alasan karena
dilandasi rasa hutang budi pada kyai Abdurrahman Wahid (Gusdur) yang terkenal
pluralisme.
Menurut pengamat politik dari sinergi
masyarakat untuk Demokrasi Indonesia, Said Salahuddin ada dua alasan utama yang
mendasari seorang pengusaha terjun ke dunia politik, pertama karena hasrat
politik yang besar, yang kedua karena proteksi bisnis. Menurutnya proteksi
bisnis merupakan faktor terkuat seorang pengusaha terjun ke dunia politik.
Selama ini, tidak sedikit partai yang menggunakan kekuasaannya memalak
pengusaha kaya. Sehingga pada akhirnya, banyak pengusaha yang harus
mengeluarkan dana dalam jumlah besar untuk mengunci mulut partai politik agar
usaha yang mereka jalankan tetap berjalan. Di sisi lain, ketika bergabung ke
partai politik, maka pengusaha tersebut hanya perlu menyokong satu parpol yang
mereka dukung. Mengutip dari Kompas, diangkatnya Rusdi sebagai waketum PKB karena partai ini sebenarnya belum
terlalu kuat secara finansial dan Rusdi adalah orang yang dianggap mampu
menutupi hal itu. Sehingga posisi strategis tersebut dapat diperoleh Rusdi yang
belum tentu diperolehnya jika bergabung di partai politik yang lain.
Beritamoneter.com mencatat lebih kurang 44,6
persen pengusaha Indonesia terjun ke dunia politik. Sebut saja Hary
Tanoesoedibjo terakhir bergabung dengan Hanura (CEO MNC Group), Dahlan Iskan
dengan Demokrat (Bos Jawa Pos), Gita Wirjawan dengan Demokrat (Bos Ancora
Capital), Abu Rizal Bakri dengan Golkar (Bakery Group), Jusuf Kalla, Tahir,
Sudamex, Sandiaga Uno dan lain-lain.
Sebuah
penelitian yang dilakukan oleh Dodi Suprihanto, mahasiswa Universitas Andalas
mengenai keterlibatan pengusaha dalam dunia politik di sumatera barat bertujuan
untuk memperoleh proyek-proyek dari pemerintah daerah dan berafiliasi kepada
partai politik yang berkuasa pada waktu itu. Namun Hamdi Muluk, pakar psikologi
politik menilai terjunnya pengusaha ke dunia politik tidak selalu untuk
memperkaya diri mereka. Sehingga mereka juga perlu untuk diapresiasi dengan
memperhatikan track record nya selama
ini, sehingga mereka patut didorong untuk menjadi negarawan.

0 komentar:
Posting Komentar