Ulang Tahun Wali Kelasku



“Saya kecewa dengan kalian,” tegas laki-laki paruh baya itu di depan kelas. Sontak kelas menjadi hening. Tak ada yang berani buka suara. Semua tertegun, termasuk temanku yang berdiri di muka pintu sambil memegang kue dan lilin yang menyala-aku lupa siapa orangnya, kalau tidak salah itu Ewi atau Yona.

“Pak, pak, tunggu pak,” kata Rudi dan Hasan memohon.

Laki-laki itu tak menggubris, teriakan kami bagaikan helaan angin saja buatnya. Ia menuruni tangga dengan tergesa-gesa, menuju parkir dan menstarter motor Supra X model lama miliknya. Tak ada kalimat penutup seperti biasa, maupun senyum yang biasa ia sunggingkan. Sambil membenarkan kacamata, ia meninggalkan kami. Tak ada lirikan sedikitpun.

Sepeninggalnya, kelas mendadak heboh. Satu dua orang mulai saling menyalahkan penggagas ide konyol ini.

“Kan, aku sudah bilang. Bapak tu dah tua, tak bisa diperlakukan kayak gitu,” kata Yaya menguatkan ketidaksetujuannya mengenai ide ‘merayakan ulang tahun’ ini.

Sebenarnya akupun lupa siapa penggagas ide tanpa pertimbangan ini, tapi yang jelas semua tampak setuju-setuju saja waktu itu. Jadi memang tidak bisa jika menyalahkan siapapun.

Baiklah, jika kalian mulai lupa kisah berkesan ini, aku akan bercerita. Kejadian ini kurang lebih hampir empat tahun yang lalu. Waktu itu, aku sedang duduk di kelas XII IPA 2. Wali kelas kami berulang tahun pada hari itu, tanggal 5 April 2011. Kami yang ingin memberikan kejutan sebagai tanda ‘perhatian’ pada orang tua kami, mulai memikirkan perayaan seperti apa yang baiknya kami lakukan. Sungguh, itu murni kekonyolan masa-masa SMA. Tanpa memikirkan bagaimana karakteristik ataupun pemikiran seorang individu di fase usia 50-an. Bagaimana cara memperlakukannya, atau bagaimana cara menyenangkannya.

Entah mengapa hampir seluruh anggota kelas setuju dengan konsep ‘membuat kecewa lalu memberikan kejutan,’ seolah-olah sedang merayakan hari ulang tahun teman sebaya. Akhirnya kami mempersiapkan segalanya, tanpa menghitung resiko. Mulai dari iuran kelas, memesan kue hingga membeli kado. Aku lupa kado apa yang kami berikan waktu itu, yang pasti itu kami pikirkan dengan pertimbangan yang matang, seperti usia wali kelas, harga kado dan selera wali kelas kami.

Karena pada hari itu wali kelasku tidak ada materi di kelas kami, akhirnya kami sepakati untuk ‘merayakan’ waktu les di sore hari. Dan tentu saja kami lebih leluasa, karena sore hari bukanlah jam sekolah.

Karena konsep merayakannya adalah ‘membuat kecewa lalu memberi kejutan’, maka kami dengan kompak datang terlambat. Hanya ada beberapa orang yang masuk kelas. 20 menit berlalu, tanpa rasa bersalah kami masuk kelas. Tentu saja dengan membumbui keributan-keributan, dan menunjukkan sikap enggan memperhatikan.

Wali kelasku masih berusaha mempertahankan kesabaran, ia meminta kelas untuk tertib kembali dan lebih konsentrasi dengan materi yang diberikan. Tak ada yang benar-benar menggubris, konsep membuat kecewa yang telah kami rencanakan beberapa hari yang lalu memang sangat kuat mengakar di kepala teman-temanku. Mereka berusaha totalitas dalam berlakon.

Berkali-kali ia berdehem, seolah memberi kode alam. Tapi waktu itu, temanku memang agak kelewatan, aku juga lupa siapa, ia asyik memainkan handphone miliknya.

Secara tiba-tiba dan penuh semangat beberapa orang temanku berdiri di depan pintu kelas sambil menyanyikan lagu khas ulang tahun disertai kue yang di atasnya telah diberi lilin menyala. Ini adalah realisasi dari konsep ‘memberikan kejutan’ yang aku ceritakan di atas.

Di luar dugaan, wali kelasku tak memberikan respon yang kami harapkan, seperti terkejut lalu tersenyum, atau berterima kasih atas apa yang telah kami upayakan. Di wajahnya, tak tampak rona kebahagiaan sedikitpun. Wajahnya serius tanpa buatan. Ia meletakkan spidol yang tadi ia gunakan untuk menulis, mengambil buku-buku di atas meja dan memasukkan ke dalam tas hitam miliknya. Sambil menyandang tas, ia berkata: “Saya kecewa dengan kalian.”

Dinding kelas seolah menertawakan kejadian memalukan ini. Tulisan-tulisan wali kelasku di papan tulis ikut mengecam tindakan yang tidak dilandasi sopan santun ini.

Demikianlah nostalgia empat tahun silam, akhir tragedi ini cukup membuat bahagia, cukuplah XII IPA 2 yang tahu. Harap tidak menyebutkan nama yang bersangkutan, terima kasih :)

0 komentar:

Posting Komentar