Sepertiga Malam



By: Imannatul Istiqomah

Hari masih gelap, belum ada satupun bagian semesta yang tampak ketika Asih membuka kusen jendela. Gelap pekat. Hanya bagian rumah yang diterangi lampu neon 10 watt. Udara dingin terasa menusuk kulit seolah memaksa Asih menutup kembali daun jendela yang baru saja ia buka. Selanjutnya, kembali ke tempat tidur dengan berselimut rapat. Tadi malam hujan sangat deras, sisa hujan masih tampak pada bagian teras yang basah, banyak air menggenang di situ. Asih mendesah pelan. Ia memandang jalan-jalan gelap lewat jendela kamarnya. Tatapan matanya tak menemukan apapun di ujung jalan, pelan-pelan matanya mengabur, air mata menggenang di sana.

Abang berharap kita masih bisa melewati momen seperti ini saban subuh. Menikmati sepertiga malam bersama-sama, heningnya, tenangnya, tak ada seorangpun yang mengganggu, kata Anwar, suami asih.

“ Kenapa harus jam segini bang? Asih pura-pura bertanya. Bukan kah kita masih punya banyak waktu yang lain? Ada pagi, siang, sore dan malam hari?”

Anwar merengkuh kepala Asih, meletakkan di atas bahunya dan meninggalkan kecupan lembut di keningnya. Ditatapnya bola mata Asih. Anwar tak melihat genangan air di pelupuk mata istrinya. Ia baru menyadari ketika tangannya menyentuh wajah istrinya dan air mata itu jatuh mengenai tangannya.

Mengapa menangis? Apa yang salah dengan waktu subuh?”

Tidak kah engkau memahami dik, betapa tak ada satu waktu yang sama dengan waktu saat-saat seperti ini. Tak ada kicau burung, tak ada suara apapun, yang ada hanya kita. 

Cobalah lihat di ujung jalan sana, tidak ada apapun yang tampak, masih sangat gelap. Waktu seperti ini sangat menyenangkan, kita bisa mereguk kenikmatan dari sunyinya waktu-waktu seperti ini”.

Genangan air di pelupuk mata Asih kini semakin banyak. Tak bisa dibendung lagi, Asih tak kuasa menahannya. Air mata itu jatuh tanpa perlawanan.


“Mengapa engkau membohongiku bang?”

“Kebohongan apa dik?”

“Tega sekali dirimu bang, seharusnya engkau tanyakan pada dirimu sendiri sampai kapan kau ingin berpura-pura begini? Memanfaatkan aku untuk menyenangkan hatimu !”

Asih tak tahan. Tak tahan dengan alasan-alasan yang terus menerus dilontarkan suaminya. Anwar seharusnya tak berbohong padanya. Tak membohongi keluarganya. Dulu ia tak pernah protes mengapa suaminya terus menerus membangunkannya setiap subuh. Ia cukup menikmati jika itu memang dilakukan semata-mata hanya untuk ia dan bang Anwar. Tapi kian lama, setelah bertahun-tahun Asih tak tahan untuk tak mencari tahu. Demi Tuhan Asih penasaran. Dan kini, hatinya resah tiap waktu, sejak ia tahu mengapa suaminya selalu ingin ditemani saban subuh. Selama mereka menikah Anwar tak pernah menyakiti hatinya, tak pernah mengecewakannya, berkata kasar sekalipun tak pernah. Ia hidup berlimpah kasih sayang dari suaminya yang memang pengasih dan penyayang.

Kini, bangun setiap pukul 03:00 sangat menyakitkan hati Asih. Meskipun dahulu saban subuh ia ikhlas menuruti permintaan suaminya, walau tak dapat diterima oleh akalnya. Tanpa aktivitas apapun. Hanya mengamati jalan gelap dari pintu kamarnya. Berbincang-bincang sebentar. Empat tahun ia melakukannya setiap hari tanpa absen seharipun. Ia ikhlas.

“Mengapa engkau tega sekali menyakitiku bang? Padahal aku tanpa pikiran apapun menyatakan siap ketika engkau memintaku untuk menemanimu di sepertiga malam seperti ini. Aku menemanimu berbicara, menatapmu, dan mengukir mimpi untuk masa depan kita. Aku tulus melakukannya untukmu. Tapi kenapa engkau tega mengkhianati ku bang? Mengkhianatiku lewat sepertiga malam ini?

Air mata asih semakin deras, mewakili rasa sakit dan kecewa di hatinya. Asih memutuskan untuk menutup kembali jendela kamarnya. Tubuh kecilnya menelungkup ke kasur, ia ingin berteriak sekuat-kuatnya, mengeluarkan seluruh kekecewaan dan kekesalannya. Benarkah ia merasa tenang ketika melakukannya? Asih tidak melanjutkan, ia berusaha mengatasi kegoncangan hatinya.

Anwar terpaku. Asih, mungkinkah ia sudah mengetahuinya? Bahwa ia selama ini melukai Asih lewat sepertiga malam. Menyembunyikan kebohongan-kebohongan di depan mata Asih. Anwar melihat Asih lalu tertunduk kaku.

Tiba-tiba Anwar merasa biliknya mengecil, komposisi kamarnya berubah dari biasanya. Di pojok kamarnya ada pasung dan tali. Lihatlah, di samping peraduannya ada bunga-bunga segar lima tahun silam berjejer rapi. Ia sangat kenal dengan apa yang ia lihat malam ini. Kamar ini, betapa ia sangat merindukan kamar ini. Dan perempuan ini, perempuan yang sedang menelungkupkan tubuhnya di atas kasur sembari memeluk bantal adalah perempuan cantik yang sangat ia cintai dengan sepenuh hati. Perempuan itu bangun dan duduk di samping Anwar. Mata sendunya menatap Anwar. Meskipun lebih kurus dan kurang merawat diri, percayalah perempuannya terlihat lebih cantik di waktu-waktu seperti ini, di sepertiga malam ini. Ia jauh lebih tenang dibandingkan biasanya. Anwar tahu bahwa perempuannya tak sama dengan perempuan lain, perempuan cantiknya sibuk berhalusinasi setiap hari, berteriak-teriak dan menjerit sekuat-kuatnya, ada suara-suara yang setiap waktu mencacinya, dan ada orang-orang yang mencoba ingin membunuhnya. Ia berbicara tentang banyak hal dan tak satupun Anwar memahami apa yang disampaikan istrinya, karena apapun yang disampaikan perempuan cantiknya selalu tak ada yang benar. Ia meracau. Perempuan cantiknya berkali-kali pula mencoba bunuh diri. Tali dan pasung di pojok kamar itu, adalah dua penangkal dari kelakunya yang tak tentu arah. Anwar sering menangis jika harus menyakiti istri yang ia cintai dengan dua benda terkutuk itu.

Dalam sekejap perempuan cantiknya hilang, berganti dengan Asih yang menelungkupkan wajahnya di atas bantal sambil menangis sesenggukan. Biliknya telah kembali ke bentuk semula. Bunga-bunga yang ia rawat lima tahun silam demi perempuan cantiknya pun tak terlihat. Pasung dan tali yang ia benci pun tak tampak lagi. Ia menyentuh pundak istrinya, Asih tak bergeming. Anwar merasa bersalah dengan Asih. Semenjak istri pertamanya meninggal, ia hidup dalam bayang-bayang istrinya yang bunuh diri karena suara-suara yang setiap hari merendahkannya.

Anwar selalu meminta Asih terjaga di sepertiga malam, agar ia bisa mengobati kerinduannya dengan istri pertamanya. Agar ia bisa merasakan kehadiran istrinya seperti subuh ini.
***

2 komentar: